(Sebuah Penelitian) Akar Pemikiran tasawuf Dalam Pandangan Jamal Malik

Oleh: Dra. Hj. Nurlela, MA dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon

 

A. Pendahuluan

Pemikiran tasawuf sebagai lokus kajian yang dinamis dan mengalami momentum popularitas dalam khazanah komtemporer. Hal ini terlihat dari daya tarik pembahasan melalui berbagai media diskusi dan lintas peradaban manusia. Dengan demikian , tasawuf tidak hanya menjadi romantisme spritualitas timur, tetapi juga menjadi romantisme idealisasi peradaban barat.

Sungguhpun demikian, harus juga diakui sepanjang sejarahnya, kajian tasawuf sebagai sesuatu yang bersifat multi purposive, dari sekedar klarifikasi logis sampai sebagai upaya penyelesaian problema psikologis manusia.

Makalah seperti ini mencoba melakukan review atas karya jamal malik yang mencakup peradaban tentang sejarah tasawuf dawann pandangan cendekiawan sejarah tasawuf dan pandangan cendekiawan timur dan barat berkenaan dengan signifikansi dan relevansi tasawuf dalam konteks kehidupan umat manusia.

B. Sejarah Tasawuf

Pandangan tentang tasawuf atau mistisme islam merupakan eksperimentasi dalam upaya menemukan jalan damai atas keselamatan hidup walaupun di sisi lain terkadang ada anggapan bahwa jasa para sufi dan ahli tarekat dakwah islam mengalami momentum kemajuan.1

Ciri khas dari gambaran sufi adalah mengakomodir aspek budaya sebagai suatu kelebihan, sekaligus sumber kritik metodelogi islam yang bersumber dari alquran dan hadist. Hal ini dapat dimaklumi sebagai eksperimentasi pemikiran tasawuf (mistiko filosofis) seringkali memadukan visi intuitif dan visi rasional. Pada sisi ini terdapat pula pandangan bahwa tasawuf tidak dapat dikategorikan sebagai filsafat mengingat ajarannya didasarkan pada rasa (dzauq).2

Perjalanan tasawuf dengan munculnya ungkapan yang samar-samar (syathahat) seringkali menimbulkan kesalahpahaman pihak luar dan kadang-kadang menimbulkan tragedi, seperti terlihat pada abad 12 dan 13 munculnya tokoh-tokoh ibnu arrabi (w 1240), Abu Yazid Albustomi, Al-Hallaj dan lainnya. Dan pada abad 17 d india telah menimbulkan gerakan menentang ajaran-ajaran tasawuf seperti yang dilakukan syekh Waliyullah (w 1762).3

Secara leksikal sebenarnya tasawuf merupakan istilah yang mendorong kepada kesucian, keindahan, kebersamaan (berteman), kecintaan yang tulus (mahabba). Sebenarnya gerakan intelektual tasawuf pada masa abbasiyah merupakan dialektika kehidupan versus tata kelola sakralisasi (esateris) melalui tahapan-tahapan yang terukur.

Pada gelombang kedua tasawuf tidak terbatas pada dialektika ide tertinggi menjadi kekuatan melawan pemerintahan ,dan pada saat bersamaan terjadi gerakan ordosufi (terikat) yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Tahapan kedua ini muncul tidak lepas dari jasa-jasa al-ghozali dalam melakukan rekonsiliasi antara pemikiran fikih dan tasawuf.

Pada tahapan ketiga tokoh Abdul kodir Al-jilani (w. 1166) mampu mendamaikan pikiran tradisionalis legalistis hambali dengan ajaran-ajaran mistis.Karya Al-gazhali dan Al-jilani menjadi instrumental dalam perkembangan tasawuf pada periode-periode berikutnya yang pada akhirnya terjadi proses integrasi yang pada akhirnya merasuki system politik keagamaan pada kerajaan-klerajaan islam.

Pada kondisi komtemporer signifikasi tasawuf terlihat pada penguatan moral yang lebih lazim disebutb sebagai tasawuf amali.

C. Pembentukan Mistiko Filosofis Nusantara

Corak islam nusantara dipastikan beraroma sufistik ajaran-ajaran ibnu arpobio yang dikembangkan Al-qunawi dan juga puisi-puisi Ar-rumi melalui jalur bagdadi india hingga nusantara.

Ajaran tasawuf falsafi menjadii kajian mennarik di benbera’pa keragaman islam nusantara dengan tokhnya Hamzah fungsiri dan Nurrudin arramiri.

Kemudian di jawa berkembang tarekat syataria yang dibawa murid-murid abdurro’u seperti abdul muhyi dengan demikian pemikiran tasawuf memberikan konstribusi penting dalam perkembangan pemikiran dan dakwah islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Gerakan-gerakan keagamaan baik di barat maupun di timur jika bercorak keras/ekstrim tanpa memperdulikan nilai budaya tidak akan mengalami perkembangan yang signifikan (unsustainable) oleh karena itu kalangan muda di berbagai belahan bumi terutama warga bangsa Asia dalam 10th terakhir ini secara kreatif menggali nilai-nilai keagamaan termasul dimensi sufistik (genosis) , di orentasikan kepada kehidupan yang nyata (saat ini) seperti membangun karakter bangsa atau gaya hidup masyarakat tidak menggambil sikap otoriter terhadap budaya. Hal ini seperti terlihat pada masa permulaan perkembangan islam pada abad ke-7di hijaj.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Al-Wafa ; Abu Ganimi Al-Taftazan., Madkhol ila Tasawuf Al-Islam. Kairo. Darul Tsaqofah. 1970. Hal 79
  2. Stanbring, Karel A. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19. Jakarta. Bulan Bintang. 1984. Hal 173
  3. Ibnu Tainiyah. Tasawuf dan Kritik Terhadap Filsafat Tasawuf. Terjemahan Abdul Kodir. Ilmu Tasawuf. Surabaya : Bina Ilmu. 1986
  4. Trimingham J. Spencer. The Sufi Orders In Islam. NewYork ; Oxford University. 1971

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: